JAKARTA, ICONONLINE.ID
Di tengah hiruk-pikuk peringatan Hari Anak Nasional (HAN) ke-42, ada satu suara yang datang bukan dari podium seremoni, melainkan dari hati seorang kakek. Tubagus Haryo Karbyanto, Sekretaris Jenderal Forum Warga Kota (FAKTA) Indonesia, menitipkan harapan sederhana namun dalam: ia ingin cucunya, dan setiap anak Jakarta, tumbuh di kota yang tidak memaksa mereka dewasa sebelum waktunya.
“Saya berbicara hari ini bukan hanya sebagai Sekretaris Jenderal FAKTA Indonesia dan pengamat kebijakan publik serta perkotaan. Saya juga berbicara sebagai seorang kakek. Saya ingin cucu saya — dan setiap anak Jakarta — kelak mewarisi kota yang tidak memaksa mereka tumbuh terlalu cepat hanya untuk bertahan hidup,” ujarnya, Rabu (23/7/2026).
Bertepatan dengan Hari Anak Nasional 2026 yang mengusung tema “Sayang Anak, Lindungi dan Bangun Masa Depan”, Tubagus mengajak semua orang menengok kembali wajah anak-anak Jakarta yang sesungguhnya. Bukan anak-anak yang tampil dalam foto seremoni atau piagam penghargaan, melainkan anak-anak yang setiap hari menyeberangi jalan raya sendirian, menghirup udara kota yang belum tentu bersih, dan tumbuh di kampung padat, rumah susun, hingga pesisir Kepulauan Seribu.
Habitat dan Habitus: Dua Sisi Kota Ramah Anak
Menurutnya, sebuah kota baru bisa disebut ramah anak jika dilihat dari dua sisi:
Pertama, habitat — rumah yang layak, udara bersih, trotoar aman, sekolah, dan ruang bermain yang mudah dijangkau.
Kedua, habitus, yaitu kebiasaan orang dewasa itu sendiri: apakah mau berhenti di zebra cross, tidak merokok di dekat anak, dan mau mendengarkan suara anak sebelum mengambil keputusan yang memengaruhi hidup mereka.
Tubagus juga menyoroti sisi lain yang jarang dibicarakan dalam perayaan resmi, yakni pentingnya ruang bermain gratis yang bisa dicapai anak hanya dalam 15 menit berjalan kaki dari rumahnya. Baginya, kota untuk anak bukan soal taman besar yang megah di pusat kota, melainkan ruang-ruang kecil yang hidup dan dekat dengan keseharian mereka.