Opini :

Oleh: Iis Sudrajat, S.Pd 

Bogor - ICONONLINE.ID

Citra TNI sedang berada di titik tekanan. Sejumlah kasus yang melibatkan oknum perwira, termasuk yang berkaitan dengan polemik program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi amunisi bagi narasi-narasi yang menyerang kepercayaan publik terhadap institusi pertahanan Indonesia. Namun di balik gelombang kritik yang sah dan perlu, ada pola lain yang tidak boleh kita abaikan: propaganda sistematis yang memanfaatkan setiap celah untuk memisahkan rakyat dari tentaranya.

Tentara Nasional Indonesia (TNI) bukan sekadar alat pertahanan negara. Ia adalah simbol kedaulatan, penjaga konstitusi, dan dalam banyak momen sejarah bangsa ini, ia adalah alasan rakyat masih bisa tidur nyenyak di malam hari.

Maka, ketika nama-nama petinggi TNI mulai terseret dalam pusaran kasus yang jauh dari medan tempur, pertanyaan besar pun tak bisa dihindari: ada apa? Dan lebih jauh lagi, siapa yang sesungguhnya paling diuntungkan jika rakyat mulai tidak percaya kepada TNI?

Kepercayaan yang Dibangun Bertahun-tahun, Bisa Runtuh dalam Hitungan Hari

Kepercayaan publik terhadap TNI bukan sesuatu yang tumbuh dalam semalam. Ia dibangun dari generasi ke generasi, dari pengorbanan di medan perang kemerdekaan, dari kehadiran di bencana alam, dari wajah seorang prajurit yang berdiri tegap di pos perbatasan terpencil tanpa banyak kata.

Namun kepercayaan, sekuat apapun pondasinya, bisa retak oleh akumulasi kekecewaan. Dan nampaknya kita sedang berada di titik itu.