JAKARTA, ICONONLINE.ID – Kenaikan harga Pertamax pada 10 Juni 2026 dan aksi demonstrasi mahasiswa yang berlangsung di kawasan Bundaran HI, Jakarta, pada 12 Juni 2026 menjadi salah satu peristiwa ekonomi-politik yang paling menyita perhatian publik.
Dalam aksi tersebut, mahasiswa menyoroti penyesuaian harga bahan bakar, mempertanyakan kondisi fiskal negara, serta mengkritisi sejumlah program pemerintah seperti Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (Kopdes) yang dinilai membutuhkan anggaran besar di tengah tantangan ekonomi nasional.
Namun, perdebatan yang berkembang kemudian dinilai tidak lagi sebatas mengenai harga bahan bakar minyak (BBM), melainkan menyentuh pertanyaan yang lebih mendasar mengenai arah penggunaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Presiden Haidar Alwi Care dan Haidar Alwi Institute sekaligus Dewan Pembina Ikatan Alumni ITB, Ir. R. Haidar Alwi, MT, menilai momentum tersebut seharusnya dimanfaatkan untuk memperluas cara pandang publik terhadap pembangunan ekonomi nasional.
“Bangsa yang besar tidak boleh terjebak hanya pada perdebatan tentang berapa rupiah harga energi hari ini. Yang jauh lebih penting adalah apakah setiap rupiah yang dibelanjakan negara mampu memperkuat ketahanan ekonomi, meningkatkan kualitas manusianya, dan membangun kemandirian bangsa untuk puluhan tahun ke depan,” ujar Haidar Alwi.
APBN Bukan Sekadar Anggaran, tetapi Instrumen Strategis Negara
Menurut Haidar Alwi, mahasiswa memiliki hak dan tanggung jawab moral untuk mengawasi kebijakan publik. Namun diskusi mengenai ekonomi nasional akan menjadi lebih produktif apabila mampu menyentuh akar persoalan dan tidak berhenti pada gejala yang tampak di permukaan.
Ia menegaskan bahwa APBN tidak dapat dipahami hanya sebagai dokumen pengeluaran tahunan, tetapi sebagai instrumen strategis yang digunakan negara untuk menjaga stabilitas ekonomi, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, memperkuat produktivitas nasional, hingga memperluas kesempatan usaha masyarakat.
Dalam perspektif ekonomi pembangunan, investasi terbesar suatu negara sering kali dilakukan pada sektor yang hasilnya tidak langsung terlihat, seperti pendidikan, kesehatan, teknologi, riset, dan pembangunan kualitas manusia.