Jakarta, ICONONLINE.ID – Nilai tukar rupiah ditutup melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (28/4/2026), seiring penguatan dolar di pasar global.

Berdasarkan data Refinitiv, rupiah ditutup di level Rp17.210 per dolar AS, atau terdepresiasi 0,15 persen. Pelemahan ini sekaligus mengakhiri tren penguatan dalam dua hari sebelumnya.

Sepanjang perdagangan, rupiah bergerak di kisaran Rp17.185 hingga Rp17.245 per dolar AS.

Di sisi lain, indeks dolar AS (DXY) yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia tercatat menguat.

Pada pukul 15.00 WIB, indeks DXY naik 0,20 persen ke level 98,689, menandakan meningkatnya permintaan terhadap dolar AS di pasar global.

Pelemahan rupiah dipicu oleh meningkatnya ketidakpastian global, khususnya terkait ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran.

Pelaku pasar kembali memburu dolar AS sebagai aset aman (safe haven), setelah pernyataan Presiden AS Donald Trump yang skeptis terhadap proposal terbaru Iran terkait pembukaan Selat Hormuz dan upaya mengakhiri konflik.

Trump menilai Iran belum menunjukkan komitmen serius, terutama terkait penghentian pengayaan nuklir.

Ketidakpastian geopolitik turut mendorong lonjakan harga energi global. Harga minyak mentah Brent dilaporkan kembali menembus level US$108 per barel.