JAKARTA, ICONONLINE.ID – Harga emas dan perak melanjutkan tren pelemahan hingga menyentuh level terendah dalam satu bulan terakhir. Tekanan terjadi setelah The Federal Reserve (The Fed) mempertahankan suku bunga, di tengah meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap inflasi global akibat konflik di Timur Tengah.
Berdasarkan data Refinitiv, harga emas pada perdagangan Rabu (29/4/2026) ditutup di level US$ 4.541,75 per troy ons atau turun 1,14%. Dalam tiga hari terakhir, harga emas telah melemah hingga 3,55%.
Namun, pada perdagangan Kamis pagi (30/4/2026) pukul 06.34 WIB, harga emas mulai menunjukkan penguatan tipis sebesar 0,22% ke posisi US$ 4.551,59 per troy ons.
Keputusan The Fed untuk menahan suku bunga sebenarnya telah sesuai ekspektasi pasar, namun dinamika internal yang terpecah menjadi sorotan. Ini menjadi keputusan paling terbelah sejak 1992, dengan sejumlah pejabat menolak pernyataan kebijakan karena tidak ingin memberi sinyal pelonggaran suku bunga.
Trader logam independen, Tai Wong menilai perbedaan pandangan tersebut memberikan tekanan tambahan pada harga emas.
“Perbedaan suara dari pejabat yang ingin menghapus bias pelonggaran dalam pernyataan kebijakan memberi tekanan pada harga emas,” ujarnya.
Pasar kini memperkirakan bahwa pemangkasan suku bunga tidak akan terjadi dalam waktu dekat, bahkan berpotensi tertunda hingga tahun depan. Kondisi ini mengurangi daya tarik emas sebagai aset lindung nilai.
Selain faktor kebijakan moneter, tekanan terhadap emas juga dipicu oleh meningkatnya kekhawatiran inflasi akibat lonjakan harga minyak global yang bertahan di atas US$100 per barel, seiring eskalasi konflik geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran.
Analis pasar dari City Index dan FOREX.com, Fawad Razaqzada menyebut prospek emas saat ini cenderung kurang cerah.