JAKARTA, ICONONLINE.ID – Dukungan terhadap Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak (PP Tunas) terus mengalir dari berbagai kalangan. Tidak hanya pemerintah dan akademisi, para finalis Puteri Indonesia 2026 juga menyatakan kesiapan mereka untuk ikut berperan dalam melindungi generasi muda Indonesia dari berbagai risiko di ruang digital.

Dukungan tersebut disampaikan saat audiensi bersama Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi), Meutya Hafid, di Kantor Kementerian Komunikasi dan Digital, Jakarta, Kamis (4/6/2026).

Para Puteri Indonesia menilai PP Tunas merupakan langkah strategis yang tidak bertujuan membatasi anak-anak dalam menggunakan teknologi, tetapi memastikan akses terhadap media sosial berlangsung lebih aman dan sesuai dengan tahap perkembangan usia.

Puteri Indonesia Pendidikan 2026 sekaligus Miss Charm Indonesia 2026, Gisela Belicia Alma Thesalonica, menilai regulasi tersebut lahir melalui proses yang matang dengan melibatkan berbagai unsur, mulai dari akademisi, psikolog, hingga praktisi.

Menurut Gisela, perlindungan anak di ruang digital perlu menjadi perhatian bersama agar generasi muda dapat memanfaatkan teknologi secara sehat dan bertanggung jawab.

“Ini bukan soal larangan atau pembatasan semata, tetapi bagaimana kita melindungi anak-anak muda agar dapat mengakses media sosial pada waktunya. Regulasi ini juga telah disusun secara matang dengan melibatkan banyak pihak,” ujarnya.

Sebagai Puteri Indonesia Pendidikan 2026, Gisela menyatakan siap mengambil peran aktif dalam menyosialisasikan PP Tunas, khususnya di lingkungan pendidikan.

Ia meyakini kolaborasi antara pemerintah, Yayasan Puteri Indonesia, dan generasi muda menjadi faktor penting dalam mendukung implementasi kebijakan tersebut.

Lebih lanjut, Gisela berencana membawa isu perlindungan anak di ruang digital ke tingkat internasional melalui ajang Miss Charm yang akan berlangsung di Vietnam.