BANDUNG,- IconOnline.id 

Sore itu, di sebuah SPBU di Kota Bandung, Yayan baru saja melewati satu lagi hari kerja yang tak biasa. Sebagai kepala shift, ia menghabiskan hari-harinya mengawasi arus kendaraan yang datang silih berganti untuk mengisi bahan bakar -- sebuah rutinitas yang belakangan terasa lebih menegangkan sejak harga BBM naik-turun dalam sepekan terakhir.

"Baru 7 bulan dari November," katanya (6/7/2026), saat ditanya sudah berapa lama bertugas di SPBU tersebut. Usia jabatannya masih terbilang muda, namun ia sudah harus menghadapi tantangan yang tak ringan: menjaga ketertiban antrean panjang di jalur Pertalite, BBM bersubsidi yang jadi rebutan warga.

SPBU tempatnya bertugas beroperasi dalam tiga shift -- pagi, siang, dan malam -- masing-masing dipimpin satu kepala shift. Dan menurut pengamatannya, sejak harga BBM bergejolak, jalur Pertalite-lah yang paling padat. "Pertalite yang subsidi BBM," ujarnya singkat, tapi maknanya dalam: BBM bersubsidi masih jadi andalan mayoritas masyarakat di tengah tekanan ekonomi.

Menanti Kabar dari Ritase Kedua

Ada momen yang cukup menegangkan sore itu. Pasokan Pertalite yang mestinya datang lewat pengiriman ronde kedua sekitar pukul setengah tiga, ternyata molor. Hingga wawancara berlangsung menjelang sore, kabar kepastian pengiriman itu belum juga datang.

"Di rit dua, cuma belum ada kabar bahwa hari ini udah jalan atau belum, dikirimnya," ujar Yayan, sembari menyebut ini kali pertama keterlambatan semacam itu ia alami selama bertugas.

Setiap harinya, SPBU tersebut kedatangan pasokan Pertalite sekitar 16 sampai 24 kiloliter, dan Pertamax sekitar 8 sampai 18 kiloliter. Untuk Solar bersubsidi, ia menyebut SPBU-nya memang tidak melayani jenis BBM tersebut.

Aturan yang Dijaga di Tengah Keramaian