Penyakit diabetes melitus, atau yang lebih dikenal oleh masyarakat Indonesia sebagai penyakit gula, kini telah menjelma menjadi salah satu ancaman kesehatan terbesar di abad ke-21. Merujuk pada data terbaru dari International Diabetes Federation (IDF) Atlas Edisi ke-10, Indonesia menempati peringkat kelima di dunia dengan jumlah penderita diabetes terbanyak, yakni mencapai 19,5 juta jiwa pada tahun 2021. Angka ini diproyeksikan akan terus melonjak hingga mencapai 28,6 juta pada tahun 2045 jika tidak ada tindakan preventif yang masif dan sistematis dari seluruh elemen masyarakat. Ironisnya, sebagian besar penderita diabetes di Indonesia tidak menyadari bahwa mereka mengidap penyakit ini hingga komplikasi serius mulai menyerang organ tubuh vital mereka. Oleh karena itu, memahami cara menghindari penyakit gula bukan lagi sekadar pilihan gaya hidup, melainkan sebuah urgensi nasional yang harus segera disosialisasikan secara luas.
Secara historis, pergeseran epidemiologi penyakit di Indonesia dari penyakit menular menjadi penyakit tidak menular (PTM) sangat dipengaruhi oleh perubahan gaya hidup masyarakat. Pada era sebelum tahun 1990-an, aktivitas fisik masyarakat Indonesia relatif tinggi karena sektor pekerjaan yang didominasi oleh pertanian dan pembangunan fisik, ditambah dengan konsumsi makanan lokal yang minim proses kimiawi. Namun, seiring dengan pesatnya urbanisasi, modernisasi teknologi, dan ekspansi industri makanan cepat saji (fast food) serta minuman berpemanis dalam kemasan (MBDK), pola hidup masyarakat berubah secara drastis menjadi lebih sedenter (kurang bergerak). Perubahan ini berkontribusi langsung pada lonjakan angka obesitas, yang merupakan faktor risiko utama dari resistensi insulin—cikal bakal terjadinya diabetes melitus tipe 2.
Untuk memahami bagaimana cara menghindari penyakit gula, penting bagi masyarakat untuk memahami mekanisme biologis di balik penyakit ini. Diabetes melitus terbagi menjadi beberapa tipe, dengan tipe 1 dan tipe 2 sebagai yang paling umum. Diabetes tipe 1 terjadi akibat reaksi autoimun di mana sistem kekebalan tubuh menyerang sel-sel beta di pankreas yang memproduksi insulin, sehingga tubuh sama sekali tidak dapat memproduksi hormon tersebut. Sementara itu, diabetes tipe 2—yang mencakup sekitar 90 hingga 95 persen dari total kasus global—terjadi ketika sel-sel tubuh menjadi tidak sensitif terhadap insulin (resistensi insulin), meskipun pankreas masih memproduksinya. Akibatnya, glukosa yang berasal dari makanan tidak dapat diserap oleh sel untuk diubah menjadi energi, melainkan menumpuk di dalam aliran darah dan merusak pembuluh darah serta saraf seiring berjalannya waktu.
Faktor risiko diabetes tipe 2 sangat dipengaruhi oleh kombinasi antara faktor genetik dan lingkungan. Seseorang yang memiliki anggota keluarga inti dengan riwayat diabetes memiliki kecenderungan genetik yang lebih tinggi untuk mengidap penyakit yang sama. Namun, faktor genetik ini bagaikan "senjata yang terisi peluru," sementara gaya hidup buruk adalah "pelatuknya." Kegemukan atau obesitas, terutama obesitas abdominal (penumpukan lemak di area perut), merupakan pemicu utama resistensi insulin. Kurangnya aktivitas fisik juga memperburuk kondisi ini, karena otot yang aktif secara fisik merupakan konsumen glukosa terbesar dalam tubuh. Ketika otot jarang digunakan, kemampuan tubuh untuk membersihkan glukosa dari darah akan menurun secara signifikan.
Ketua Pengurus Besar Persatuan Diabetes Indonesia (PERSADIA), Dr. dr. Agung Pranoto, Sp.PD-KEMD, dalam sebuah seminar kesehatan nasional menegaskan bahwa kunci utama dalam menghindari penyakit gula adalah deteksi dini dan modifikasi gaya hidup secara konsisten. "Diabetes sering kali dijuluki sebagai silent killer karena penyakit ini berkembang secara perlahan tanpa menimbulkan gejala yang mencolok pada fase awal. Banyak pasien yang datang ke rumah sakit sudah dalam kondisi komplikasi berat, seperti gagal ginjal, kebutaan akibat retinopati diabetik, hingga luka gangren di kaki yang harus diamputasi. Pencegahan primer melalui pengaturan pola makan dan olahraga rutin jauh lebih murah dan efektif dibandingkan dengan pengobatan jangka panjang yang harus dijalani seumur hidup," ujar Dr. Agung.
Dampak ekonomi dari tingginya prevalensi diabetes di Indonesia juga tidak boleh dipandang sebelah mata. Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan melaporkan bahwa penyakit tidak menular, termasuk diabetes melitus dan komplikasinya seperti penyakit jantung dan stroke, menyerap porsi anggaran terbesar dalam skema Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Setiap tahunnya, triliunan rupiah dialokasikan untuk membiayai pengobatan cuci darah (hemodialisis) akibat nefropati diabetik dan tindakan operasi kardiovaskular. Bagi tingkat keluarga, diabetes dapat menurunkan produktivitas kerja anggota keluarga yang produktif serta menimbulkan beban finansial yang signifikan untuk biaya obat-obatan dan perawatan suportif jangka panjang.
Sebagai langkah awal pencegahan, masyarakat harus mengenali gejala klasik diabetes yang sering diabaikan. Gejala tersebut dikenal dengan istilah "3P", yaitu poliuria (sering buang air kecil, terutama pada malam hari), polidipsia (sering merasa haus yang berlebihan), dan polifagia (sering merasa lapar meskipun sudah makan cukup). Selain itu, penurunan berat badan secara drastis tanpa penyebab yang jelas, tubuh terasa cepat lelah, pandangan mata kabur, serta luka yang sangat lambat sembuh juga merupakan indikator kuat bahwa kadar gula darah seseorang berada di atas ambang batas normal. Jika gejala-gejala ini mulai dirasakan, pemeriksaan kadar gula darah puasa dan HbA1c (pemeriksaan rata-rata kadar gula darah selama tiga bulan terakhir) harus segera dilakukan di fasilitas kesehatan terdekat.
Langkah preventif paling konkret yang dapat dilakukan oleh setiap individu adalah dengan melakukan reformasi pola makan. Membatasi konsumsi gula sederhana, seperti gula pasir, sirup, madu, dan pemanis buatan dalam makanan dan minuman sehari-hari adalah hal yang mutlak. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia merekomendasikan batas konsumsi gula harian maksimal adalah 4 sendok makan atau setara dengan 50 gram per orang per hari. Sebagai alternatif, masyarakat diimbau untuk beralih ke karbohidrat kompleks yang kaya serat, seperti beras merah, gandum utuh, oat, dan umbi-umbian. Serat memiliki peran krusial dalam memperlambat penyerapan glukosa di dalam usus, sehingga mencegah terjadinya lonjakan kadar gula darah secara mendadak (sugar spike) setelah makan.
Selain menjaga pola makan, aktivitas fisik secara teratur menjadi pilar pencegahan yang tidak kalah penting. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyarankan setiap orang dewasa untuk melakukan aktivitas fisik dengan intensitas sedang minimal 150 menit per minggu, atau sekitar 30 menit per hari selama lima hari dalam seminggu. Olahraga yang dianjurkan meliputi jalan cepat, bersepeda, berenang, atau senam aerobik. Melalui aktivitas fisik, sensitivitas sel-sel tubuh terhadap insulin akan meningkat, sehingga glukosa dapat masuk ke dalam sel dengan lebih efisien bahkan tanpa bantuan insulin dalam jumlah besar. Olahraga juga membantu membakar kalori berlebih, menurunkan kadar lemak tubuh, dan menjaga berat badan tetap berada dalam rentang ideal (Indeks Massa Tubuh antara 18,5 hingga 22,9 kg/m²).