Aceh, ICONONLINE.ID – Kolaborasi antara Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) dengan Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI AD) terus mempercepat rehabilitasi sekolah-sekolah yang rusak akibat bencana hidrometeorologi di Aceh. Sebanyak 190 sekolah dengan kategori rusak berat hingga rusak total kini tengah dikebut pengerjaannya agar dapat kembali digunakan pada tahun ajaran baru 2026/2027.
Komandan pelaksana dari Kodam Iskandar Muda, Letkol Inf. Arino Vranta Sinurat, mengatakan TNI mendapat mandat untuk mengawal pelaksanaan kerja sama swakelola tipe dua antara Kemendikdasmen dan TNI AD dalam proyek rehabilitasi tersebut.
“Kami diperintahkan untuk mengawal kerja sama swakelola tipe dua antara Kemendikdasmen dan TNI Angkatan Darat agar seluruh proses rehabilitasi berjalan sesuai target,” ujar Sinurat saat mendampingi kunjungan kerja Mendikdasmen ke SD Negeri Utue, Kabupaten Pidie, Aceh, Senin (22/6/2026).
Sebanyak 190 sekolah yang direhabilitasi tersebar di berbagai jenjang pendidikan, mulai dari PAUD, SD, SMP hingga SMA. Salah satu proyek prioritas adalah revitalisasi SD Negeri Utue yang masuk kategori rehabilitasi skala besar.
Di sekolah tersebut, pembangunan meliputi enam ruang kelas baru, dua ruang administrasi yang terdiri atas ruang kepala sekolah dan tata usaha, fasilitas sanitasi, pengadaan mebel, hingga penataan lingkungan sekolah. Total anggaran rehabilitasi mencapai Rp1,7 miliar yang bersumber dari Kemendikdasmen melalui Direktorat Sekolah Dasar.
Menurut Sinurat, penataan lingkungan menjadi fokus penting karena sekolah tersebut sebelumnya kerap mengalami banjir saat hujan. Untuk mengatasinya, dilakukan penyesuaian elevasi halaman dan perbaikan sistem drainase.
“Elevasi halaman akan disesuaikan supaya ketika hujan sekolah tidak lagi tergenang seperti sebelumnya,” jelasnya.
Selain itu, pembangunan juga mencakup perbaikan saluran pembuangan air, pembangunan pagar sekolah, serta rencana penambahan sumur bor guna memenuhi kebutuhan air bersih. Namun, proyek sumur bor menghadapi tantangan karena sumber air diperkirakan berada pada kedalaman sekitar 40 meter.
Dalam pelaksanaannya, TNI bekerja bersama tenaga profesional sipil. Setiap hari, sekitar delapan tukang sipil dan tiga personel TNI diterjunkan untuk mempercepat pengerjaan di lapangan.